Pengolahan
Air Dengan Menggunakan
Teknik
Aerasi
Oleh :
Muhammad
Escha Adesha
(12.330.023)
Semester 3
Reguler
|
POLITEKNIK
KESEHATAN TANJUNG KARANG
JURUSAN
KESEHATAN LINGKUNGAN
BANDAR
LAMPUNG
2013
Kata
Pengantar
Puji dan Syukur kami panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang
Maha Esa, karena berkat limpahan Rahmat dan Karunia-nya sehingga kami dapat
menyusun makalah ini dengan baik dan tepat pada waktunya. Dalam makalah ini
kami membahas mengenai hubungan sosiologi.
Makalah ini dibuat dengan berbagai observasi dan
beberapa bantuan dari berbagai pihak untuk membantu menyelesaikan tantangan dan
hambatan selama mengerjakan makalah ini. Oleh karena itu, kami mengucapkan
terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam
penyusunan makalah ini.
Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang
mendasar pada makalah ini. Oleh karena itu kami mengundang pembaca untuk
memberikan saran serta kritik yang dapat membangun kami. Kritik konstruktif
dari pembaca sangat kami harapkan untuk penyempurnaan makalah
selanjutnya.
Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat
bagi kita sekalian.
Bandar Lampung,Desember 2013
Penulis
Daftar Isi
Cover
Kata
Pengantar
Daftar Isi ......................................................................................................................
Bab 1 ...................................................................................................................................
1.1
Latar Belakang ...........................................................................................................
1.2
Rumusan Masalah ...........................................................................................................
1.3
Tujuan ........................................................................................................................
1.4
Manfaat ........................................................................................................................
Bab II
Pembahasan ............................................................................................................
2.1
Pengertian dan Fungsi ................................................................................................
2.2 Jenis-Jenis Aerasi ............................................................................................................
2.3
Pengolahan,Teknik dan gambar dengan menggunakan Aerasi ....................................
Daftar
Pustaka
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Proses pengolahan air perlu dilakukan agar
bisa mendapatkan dan menghasilkan air yang sesuai dengan baku mutu air bersih atau
air minum. Namun sebelum melakukan pengolahan perlu diperhatikan dua aspek
terkait dengan sumber air baku dari air permukaan, yaitu segi kekeruhan dan
segi mikrobiologisnya. Karena semakin buruk kondisi dan kualitas air baku yang
ada, akan semakin sulit proses pengolahannya dan semakin tinggi biaya yang
dibutuhkan, karena akan memerlukan bahan-bahan kimia yang lebih banyak bahkan
memerlukan unit pengolahan yang baru untuk menjaga kualitas air sesuai dengan
baku mutu air bersih.
Baku mutu yang digunakan untuk kualitas
air minum di Indonesia adalah Peratuan Menteri Kesehatan No.
907/MENKES/SK/VII/2002. Ada 2 proses dalam pengolahan air baku secara umum,
yaitu dengan proses fisika dan dengan proses kimia. Proses fisika pada dasarnya
memiliki tujuan untuk menghilangkan kekeruhan akibat partikel-partikel yang
terlarut pada air baku, oleh karena itu prinsip pengolahan secara fisika adalah
dengan proses penyaringan dan gravitasi. Salah satu contoh pengolahan air minum
dengan proses fisika yaitu dengan cara aerasi yang selanjutnya akan dibahas di
bab selanjutnya.
1.2 Rumusan Masalah
1.
Apakah pengertian dari proses aerasi ?
2.
Ada berapa jenis metode yang digunakan untuk proses
pengolahan air secara aerasi ?
3.
Apa saja media yang digunakan ?
4.
Bagaimana cara pengolahannya?
5.
Bagaimana gambar dan diagram alirnya?
1.3 Tujuan
1.
dapat mengetahui apa pengertian dari proses aerasi
2.
dapat mengetahui jenis-jenis aerasi
3.
dapat mengetahui media yang digunakan dan cara
pengolahannya
4.
dapat mengetahui gambar dan diagram alirnya
1.4 Manfaat
1.
Mahasiswa dapat mengetahui apa pengertian dari proses aerasi
2.
Mahasiswa dapat mengetahui jenis-jenis aerasi
3.
Mahasiswa dapat mengetahui media yang digunakan dan
cara pengolahannya
4.
Mahasiswa dapat mengetahui gambar dan diagram alirnya
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian dan Fungsi
Aerasi adalah pemambahan oksigen ke dalam air
sehingga oksigen terlarut di dalam air semakin tinggi. Pada prinsipnya aersi
itu mencampurkan air dengan udara atau bahan lain sehingga air yang beroksigen
rendah kontak dengan oksigen atau udara. Aerasi termasuk pengolahan secara
fisika, karena lebih mengutamakan unsur mekanisasi dari pada unsur
biologi. Aerasi merupakan proses pengolahan dimana air dibuat mengalami
kontak erat dengan udara dengan tujuan meningkatkan kandungan oksigen dalam air
tersebut. Dengan meningkatnya oksigen zat-zat mudah menguap seperti hiddrogen
sulfide dan metana yang mempengaruhi rasa dan bau dapat dihilangkan. Kandungan
karbondioksida dalam air akan berkurang. Mineral yang larut seprti besi dan
mangan akan teroksidasi mementuk endapan yang dapat dihilangkan dengan
sedimentasi dan filtrasi.
Proses aerasi merupakan peristiwa terlarutnya
oksigen di dalam air. Efektifitas dari aerasi tergantung dari seberapa luas
dari permukaan air yang bersinggungan langsung dengan udara. Fungsi utama
aerasi adalah melarutkan oksigen ke dalam air untuk meningkatkan kadar oksigen
terlarut dalam air dan melepaskan kandunngan gas-gas yang terlarut dalam air,
serta membantu pengadukan air. Aerasi dapat dipergunakan untuk menghilangkan
kandungan gas terlarut, oksidasi besi dan mangan dalam air, mereduksi ammonia
dalam air melalui proses nitrifikasi.
Proses aerasi sangat penting terutama pada
pengolahan limbah yang proses pengolahan biologinya memanfaatkan bakteri aerob.
Bakteri aerob adalah kelompok bakteri yang mutlak memerlukan oksigen bebas
untuk proses metabolismenya. Dengan tersedianya oksigen yang mencukupi selama
proses biologi, maka bakteri-bakteri tersebut dapat bekerja dengan optimal. Hal
ini akan bermanfaat dalam penurunan konsentrasi zat organik di dalam air
limbah. Selain diperlukan untuk proses metabolisme bakteri aerob, kehadiran
oksigen juga bermanfaat untuk proses oksidasi senyawa-senyawa kimia di dalam
air limbah serta untuk menghilangkan bau. Aerasi dapat dilakukan secara alami,
difusi, maupun mekanik.
2.2
Jenis-Jenis Aersasi
·
Aerasi alami merupakan kontak antara
air dan udara yang terjadi karena pergerakan air secara alami. Beberapa
metode yang cukup populer digunakan untuk meningkatkan aerasi alami antara lain
menggunakan cascade aerator, waterfalls, maupun cone
tray aerato
r.
·
Pada aerasi secara difusi, sejumlah
udara dialirkan ke dalam air limbah melalui diffuser. Udara yang
masuk ke dalam air limbah nantinya akan berbentuk gelembung-gelembung (bubbles).
Gelembung yang terbentuk dapat berupa gelembung halus (fine bubbles)
atau kasar (coarse bubbles). Hal ini tergantung dari
jenis diffuser yang digunakan.

·
Aerasi secara mekanik atau dikenal juga dengan
istilah mechanical agitation menggunakan proses pengadukan dengan suatu
alat sehingga memungkinkan terjadinya kontak antara air dengan udara.
a. Gravity
Aerasi dengan
menggunakan aerator gravitasi merupakan penambahan oksigen terlarut dalam air
dengan memanfaatkan energi pada saat air turun melalui ketinggian tempat
terhadap permukaan air. Jenis aerator ini banyak digunakn untuk budidaya
khususnya pembesaran ikan karena konstruksi sederhana dan biayanya murah.
Berikut ini contoh dari aerasi dengan menggunakan aerasi gravity.
b. Permukaan
Aerasi permukaan
menggunakan luas permukaan untuk mempercepat laju difusi udara khususnya
oksigen ke dalam badan air. Pada aerasi permukaan terjadi agitasi (perusakan
lapisan film yang dapat mempercepat difusi oksigen.
c. Difuser aerator
Aerasi ini memasukan
udara atau oksigen ke dlam badan air dalam bentuk gelembung dan oksigen
ditransfer dari gelembung ke dalam air. Efektifitas laju tranfer oksigen
kedalam air dipengaruhi ukuran gelembung dan lama waktu gelembung dalam air.
d. Turbin
Aerasi turbin prinsip kerjanya
memanfaatkan turbin agar terjadi difusi oksigen dari udara kedalam badan air
2.3 Pengolahan,Teknik dan gambar dengan menggunakan Aerasi
Aerasi difusi
Menghembuskan gelembung ke
dalam air (umum untuk akuarium). Dalam aerasi difusi besar kecil dan lamanya
gelembung udara didalam air mempengaruhi laju transfer oksigen kedalam badan
air.
Tehnik aerasi difusi adalah sebagai berikut:
1. Alat dan
bahan yang digunakan
·
Blower (pompa udara) yang digunakan untuk
menghasilkan dan menghembuskan udara ke dalam badan air.
·
Selang aerasi. Selang ini berfungsi sebagai
penghubung antara blower dengan batu aerasi untuk mengalirkan udara.
·
Batu aerasi, batu aerasi ini mengandung
pori-pori yang dapat berfungsi untuk memperbanyak gelembung udara.
2. Tehnik
penggunaan aerasi difusi
·
Hubungkan selang aerasi dengan blower, jangan
sampai mengalami kebocoran.
·
Setelah selang aerasi terhubung dengan blower
maka ujung lain dari selang aerasi tersebut dihubungkan dengan batu aerasi.
·
Hubungkan blower dengan catu daya, bila
terhubung maka batu aerasi terbut sudah siap untuk digunkan.
·
Letakan batu aerasi ke dalam akuarium atau badan
air. Titik peletakan batu aerasi tergantung pada banyaknya lebar dari akuarium
tersebut.
3.Aerasi
semprot
·
Air
di semprotkan ke udara (contoh di tambak udang pakai kincir; atau air mancur).
Prinsip aerasi semprot ini yaitu memancukan air ke udara atau menyemprok air
sehingga pada saat air berada diudara air tersebut menndapat tambahan oksigen
melalui difusi okigen dan saat air jatuh pada permukaan air dapat menyebabkan
lapisan film pada permukaan air menjadi rusak sehingga pada permukaan air juga
terjadi transfer oksigen dari udara. Alat-alat yag digunakan dalam aerasi
semprot ini antara lain
·
Wadah budidaya sebagai penampung masa air.
·
Kincir air atau peralatan air mancur untuk
melemparkan masa air keudara dan menyeburkan air.
Tehnik penggunaan aerator semprot ini adalah:
1. Hidupkan
kincir air tesebut dengan menghubungkan jala jala listrik.
2. Menaruh
kincir air pada badan air, jumlah kincir yang diletakan tergantung pada berapa
banyak kandungan oksigen yang diharapkan). Untuk kegiatan budidaya yang
intensif dengan padat terbar yang tinggi keberadaan kincir ini menjadi wajib
digunakan.
3. Penempatan
arah kincir air akan mempengaruhi penumpukan lumpur pada dasar tambak. Sehingga
pemakaian kincir diusahan menggunakan dua buah kincir agar lumpur tersebar
merata didalam dasar tambak.
4. Penempatan
air mancur diletakkan ditengah akuraium atau kolam agar terjadi pemerataan
jumlah kandungan oksigen yang terlarut.
Berikut ini merupakan gambar dari aerator dengan
tehnik air mancur:
Aerasi wadah bertingkat
Air terjun dari satu wadah ke wadah lebih rendah menghasilkan air terjun.
Tehnik aerasi ini menggunakan prinsip gravitasi dari ketinggian kemudian jatuh
ke permukaan air. Selama air mengalir dari atas ke bawah, air ini mengalami
proses difusi oksigen dari udara ke permukaan air. Dibawah ini gambar aerasi
wadah bertingkat.
Air
dialirkan dari atas kemudian akan jatuh kebawah (wadah budidaya) melalui suatu
media yang bertingkat. Saat air jatuh dari undakan satu ke undakan yang lain
maka proses difusi oksigen terjadi. Semakin banyak tingkatan atau “undakan”
menyebabkan transfer difusi oksigen berlangsung lebih cepat.
5. Aerasi
banyak permukaan
Air mengalir pada permukaan
terbuka yang lebar dan kedalaman air nya tipis saja (perlu ruang banyak,
bayangkan waterboom). Pada aerasi ini memanfaaatkan luas permukaan dari
lapang sebelum air tersebut masuk pada kolam atau wadah budidaya. Semakin luas
permukaan dari lahan tersebut maka proses transfer oksigen dari udara pada
badan air semakin tinggi. Difusi oksigen atau tranfer oksigen dari udara ke
badan air terjadi pada saat air melewati luas lapang tersebut. Berikut ini
gambar aerasi dengan menggunakan banyak permukaan.
Aerasi pemencaran jalan air
Jika air dipompakan ke kolam,
sebelum mencapai permukaan badan air, dihambat oleh sebuah halangan sehingga
airnya terpencar-pencar, untuk meningkatkan jumlah kontak udara dengan badan
air. Pada
dasarnya aerasi ini sama dengan aerasi semprot tapi pada aerasi ini menggunkan
penghalang pada lubang keluar airnya sehingga ai ryang keluar berupa titik air
yang jatuh pada badan air.
Proses aerasi terhadap air kran
1.
Memasukan 10 L air kran ke dalam bak
2.
Mengambil sejumlah airpada wadah (0 menit), mengukur DO
sampel tersebut
3.
Memutar keran udara tekan dengan besar tekanan udara 30
mm
4.
Melakukan pengambilan sampel setiap 30 menit (sampai
mendapat 8 titik)
5.
Melakukan pengukuran DO
Proses aerasi terhadap sampel air
1.
Memasukan 10 L air sampel ke dalam bak
2.
Mengambil sejumlah sampel air pada wadah (0 menit),
mengukur DO sampel tersebut dan menyimpannya 2 hari
3.
Memutar keran udara tekan dengan besar tekanan udara 30
mm
4.
Melakukan pengambilan sampel setiap 30 menit (sampai
mendapat 8 titik)
5.
Melakukan pengukuran DO
Pengukuran Fe dengan spektrofotometer
1.
sejumlah ml air sampel
2.
Penambahan 3 mL KSCN. HNO3 5 mL ke dalam labu takar
3.
melakukan pengukuran dengan spektrofotometer
Pengolahan
Air Limbah Dengan Proses Aerasi Kontak
Proses ini merupakan pengembangan dari proses lumpur aktif dan proses
biofilter. Pengolahan air limbah dengan proses aerasi kontak ini terdiri dari
dua bagian yakni pengolahan primer dan pengolahan sekunder.
Pengolahan
Primer
Pada pengolahan primer ini, air limbah dialirkan melalui saringan kasar (bar
screen) untuk menyaring sampah yang berukuran besar seperti sampah daun,
kertas, plastik dll. Setelah melalui screen air limbah dialirkan ke bak
pengendap awal, untuk mengendapkan partikel lumpur, pasir dan kotoran lainnya.
Selain sebagai bak pengendapan, juga berfungasi sebagai bak pengontrol aliran.
Pengolahan
sekunder
Proses pengolahan sekunder ini terdiri dari bak kontaktor anaerob (anoxic) dan
bak kontaktor aerob. Air limpasan dari bak pengendap awal dipompa dan
dialirkan ke bak penenang, kemudian dari bak penenang air limbah mengalir ke
bak kontaktor anaerob dengan arah aliran dari bawah ke atas (Up Flow). Di dalam
bak kontaktor anaerob tersebut diisi dengan media dari bahan plastik atau
kerikil/batu split. Jumlah bak kontaktor anaerob ini bisa dibuat lebih dari
satu sesuai dengan kualitas dan jumlah air baku yang akan diolah. Air limpasan
dari bak kontaktor anaerob dialirkan ke bak aerasi. Di dalam bak aerasi ini
diisi dengan media dari bahan pasltik (polyethylene), batu apung atau bahan
serat, sambil diaerasi atau dihembus dengan udara sehingga mikro organisme yang
ada akan menguraikan zat organik yang ada dalam air limbah serta tumbuh dan
menempel pada permukaan media. Dengan demikian air limbah akan kontak dengan
mikro-orgainisme yang tersuspensi dalam air maupun yang menempel pada permukaan
media yang mana hal tersebut dapat meningkatkan efisiensi penguraian zat
organik. Proses ini sering di namakan Aerasi Kontak (Contact Aeration).
Dari bak aerasi, air dialirkan ke bak pengendap akhir. Di dalam bak ini lumpur
aktif yang mengandung massa mikro-organisme diendapkan dan dipompa kembali ke
bagian inlet bak aerasi dengan pompa sirkulasi lumpur. Sedangkan air limpasan
(over flow) dialirkan ke bak khlorinasi. Di dalam bak kontaktor khlor ini air
limbah dikontakkan dengan senyawa khlor untuk membunuh micro-organisme patogen.
Air olahan, yakni air yang keluar setelah proses khlorinasi dapat langsung
dibuang ke sungai atau saluran umum. Dengan kombinasi proses anaerob dan aerob
tersebut selain dapat menurunkan zat organik (BOD, COD), cara ini dapat
menurunkan konsentrasi nutrient (nitrogen) yang ada dalam air limbah. Dengan
proses ini air limbah rumah sakit dengan konsentrasi BOD 250 -300 mg/lt dapat di
turunkan kadar BOD nya menjadi 20 -30 mg/lt. Skema proses pengolahan air limbah
rumah sakit dengan sistem aerasi kontak dapat dilihat pada gambar III.5.
Surplus lumpur dari bak pengendap awal maupun akhir ditampung ke dalam bak
pengering lumpur, sedangkan air resapannya ditampung kembali di bak penampung
air limbah.

Gambar III.5 : Diagram proses pengolahan air limbah dengan proses aerasi kontak.
Keunggulan
Proses Aerasi Kontak
· Pengelolaannya
sangat mudah.
· Biaya
operasinya rendah.
· Dibandingkan
dengan proses lumpur aktif, Lumpur yang dihasilkan relatif sedikit.
· Dapat
menghilangkan nitrogen dan phospor yang dapat menyebabkan euthropikasi.
· Suplai
udara untuk aerasi relatif kecil.
· Dapat
digunakan untuk air limbah dengan beban BOD yang cukup besar.
Daftar Pustaka
Tidak ada komentar:
Posting Komentar